Buka MUSDAT ke-V DPP Lembaga Adat Tolaki, Gubernur ASR Tekankan Pentingnya Inovasi Berbasis Kearifan Lokal

Gubernur Sultra, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka saat melakukan pemukulan gong sebagai penanda membuka secara resmi kegiatan Musyawarah Adat Pusat ke-V Dewan Pengurus Pusat Lembaga Adat Tolaki di Rumah Adat Tolaki Laika Mbu’u. Foto: Istimewa

KONAWE, HITSultra.com – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka (ASR) secara resmi membuka Musyawarah Adat (MUSDAT) ke-V Dewan Pengurus Pusat Lembaga Adat Tolaki (DPP LAT), di Rumah Adat Tolaki Laika Mbu’u, Unaaha, Kabupaten Konawe, pada Jumat (16/5) kemarin.

Ratusan peserta dari berbagai wilayah Sultra yang terdiri dari pengurus LAT, tokoh adat, hingga perwakilan pemerintah provinsi dan daerah hadir memeriahkan forum adat ini.

Mengusung tema “Medulu Mepokoaso” atau “bersatu dan berkarya”, musyawarah ini menjadi arena strategis memperkuat jalinan adat dan pemerintahan dalam mewujudkan kemajuan daerah yang tetap berakar pada budaya lokal.

Dalam sambutannya, Gubernur Andi Sumangerukka memberikan apresiasi terhadap semangat kolektif seluruh peserta.

Ia menegaskan bahwa LAT bukan sekadar penjaga warisan budaya, namun juga mitra pemerintah yang penting dalam memperkokoh struktur sosial dan mendukung pembangunan yang inklusif.

“LAT harus menjadi garda terdepan dalam menyuarakan kepentingan masyarakat adat, dan hukum adat Kalosara harus diakui sebagai bagian dari sistem hukum nasional,” ujar Gubernur dengan penuh semangat.

Ia juga menekankan pentingnya inovasi berbasis kearifan lokal, khususnya dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Musyawarah ini disambut dengan pawai budaya spektakuler yang menyedot perhatian ribuan warga Konawe.

Dalam rangka HUT ke-65 Kabupaten Konawe, ribuan peserta dari ratusan kontingen menampilkan busana adat dan pertunjukan seni yang mencerminkan keragaman budaya Sultra.

Pawai yang dimulai dari Inolobunggadue Central Park (ICP) dan berakhir di Rumah Adat Laika Mbu’u ini menyulut semangat masyarakat dalam merayakan identitas budaya mereka.

“Budaya Tolaki tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang dan menyatukan masyarakat,” kata Bupati Konawe, H. Yusran Akbar dalam sambutannya yang turut disampaikan bersama Wakil Bupati, H. Syamsul Ibrahim.

Acara pembukaan juga dihadiri oleh jajaran Forkopimda Sultra, para bupati dan wali kota se-Sultra, Kabiro Pemerintahan Kemendagri Asmawa Tosepu, serta tokoh adat dari berbagai penjuru wilayah.

Ketua DPP LAT dalam laporannya menegaskan pentingnya forum ini sebagai ruang penyusunan arah kebijakan pelestarian budaya, penguatan hukum adat, dan peningkatan peran LAT sebagai elemen strategis pembangunan.

“LAT harus progresif, namun tetap berpijak pada nilai-nilai luhur. Kami juga fokus mendorong integrasi hukum adat dalam kebijakan daerah, terutama pengelolaan sumber daya alam,” tegasnya.

Bupati Konawe Yusran Akbar menyampaikan kebanggaannya atas kepercayaan menjadi tuan rumah, sekaligus menegaskan komitmen untuk menjaga warisan budaya Tolaki.

“Konawe adalah pusat kebudayaan Tolaki, dan pemerintah akan terus bersinergi dengan lembaga adat dalam pelestarian budaya ini,” ujarnya.

Pemilihan Rumah Adat Laika Mbu’u sebagai lokasi utama juga memiliki makna mendalam. Selain sebagai simbol adat, tempat ini merupakan kompleks pemakaman Permaisuri Raja Lakidende, figur sentral dalam sejarah Tolaki.

“Di sinilah akar kita. Kita kembali ke titik awal, untuk bersama-sama merancang masa depan yang tidak tercerabut dari jati diri,” ucap salah satu sesepuh adat dalam doa pembuka.

Dengan seluruh rangkaian kegiatan ini, MUSDAT ke-V DPP LAT tak hanya menjadi perhelatan seremonial, tetapi sebuah momentum reflektif dan proyeksi masa depan Sultra yang berkarakter dan berdaya.(**)