KENDARI, Hitsultra.com – Di tengah keluhan panjang soal jalan rusak yang tak kunjung tuntas, sekelompok warga di Kendari memilih berhenti mengeluh dan mulai bergerak, Rabu, 22/4/2026.
Melalui Komunitas Abu Langit, mereka patungan dana pribadi, turun ke lapangan, dan menambal puluhan lubang jalan dengan menghabiskan hampir dua ton aspal untuk memperbaiki 33 titik yang selama ini membahayakan pengguna jalan.
Gerakan itu bukan sekadar aksi spontan. la lahir dari keresahan panjang yang akhirnya menemukan jalan keluar. Kini, hasilnya mulai terlihat. Puluhan titik jalan yang sebelumnya rusak perlahan kembali layak dilalui.
Aksi tersebut telah menjangkau empat kelurahan di Kota Kendari, yakni Watu-watu, Mokoau, Kambu, dan Kadia. Di wilayah-wilayah itu, lubang yang dulu menjadi ancaman bagi pengendara kini telah ditambal.
Pemimpin komunitas, Harun Andi, mengungkapkan bahwa ide perbaikan jalan sebenarnya sudah lama ada. Namun, keterbatasan metode sempat membuat rencana itu tertunda.
“Kami sempat berpikir menggunakan semen, tapi harus menunggu kering. Pernah juga terpikir memanfaatkan limbah plastik, tapi terkendala teknologi,” ucap Harun dikutip dari Sultratop.com.

Titik terang muncul pada akhir Maret lalu ketika komunitas itu bertemu dengan pihak yang memiliki keahlian teknis. Dari situ, mereka sepakat menggunakan aspal sebagai solusi paling efektif dan cepat diterapkan di lapangan.
Dengan jumlah anggota hanya lima orang, mereka bergerak secara swadaya. Dana dikumpulkan dari tabungan pribadi untuk membeli peralatan, mulai dari mesin stamper hingga perlengkapan keselamatan kerja.
“Kami patungan agar pekerjaan ini bisa dilakukan dengan baik dan aman,” imbuhnya.
Upaya mereka bukan tanpa hasil. Sedikitnya 33 titik jalan berlubang telah diperbaiki di sejumlah kawasan strategis, seperti jalur By Pass, sekitar SD 08 Kendari, Jalan Wayong, hingga Jalan Terong.
Aksi itu dilakukan secara gratis dan turut mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya pengusaha aspal, H. Ishak, yang menyumbangkan satu ton aspal untuk mendukung kegiatan tersebut.
Sebelum melakukan penambalan, tim terlebih dahulu melakukan survei lapangan dan mengumpulkan laporan masyarakat guna menentukan titik prioritas. Fokus utama mereka adalah jalan yang berpotensi menyebabkan kecelakaan.

Menurut Harun, tingginya risiko kecelakaan akibat jalan rusak menjadi alasan utama mereka bergerak. la menilai, menjaga keselamatan di jalan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat.
“Kita tidak bisa hanya menunggu. Kalau kita bisa berbuat, sekecil apa pun, itu berarti,” tegasnya.
Aksi komunitas itu juga dibagikan melalui media sosial TikTok @abulangitofficial, yang memperlihatkan proses penambalan hingga kondisi jalan setelah diperbaiki.
Ke depan, Abu Langit berkomitmen untuk terus melanjutkan gerakan tersebut dengan menyasar titik-titik lain yang dinilai rawan, termasuk di kawasan Jalan Panglima Polim.
Harun berharap, langkah kecil yang mereka mulai bisa menjadi pemicu lahirnya gerakan serupa di tengah masyarakat.
“Kalau semakin banyak yang peduli, masalah seperti ini bisa cepat teratasi. Kami hanya memulai,” tandasnya.(**)








