Di Balik Layar Film “Pesta Babi”, Kisah Perjuangan Masyarakat Adat Papua yang Menggetarkan Warganet

KENDARI, Hitsultra.comFilm dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” yang dirilis pada 12 April 2026 dengan menyoroti konflik agraria dan krisis ekologis akibat proyek food estate di Papua menjadi perbincangan hangat warganet.

Tidak hanya viral di media sosial, film garapan jurnalis investigasi Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Paju Dale itu juga memantik diskusi luas tentang masyarakat adat Papua, lingkungan hidup, hingga pembangunan nasional.

Di balik judulnya yang unik, tersimpan kisah menyentuh tentang perjuangan masyarakat adat mempertahankan tanah dan identitas budaya mereka di tengah ekspansi proyek industri besar di Papua Selatan.

Film dokumenter tersebut merekam kehidupan masyarakat adat di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi yang menghadapi perubahan besar akibat pembukaan lahan berskala masif untuk proyek pangan dan energi nasional.

Dalam film itu, suara masyarakat adat seperti suku Marind, Muyu, hingga Awyu ditampilkan secara dekat dan emosional.

Judul “Pesta Babi” sendiri diambil dari tradisi adat masyarakat Papua yang menjadikan pesta babi sebagai simbol persaudaraan, kehormatan, dan identitas budaya.

Namun dalam dokumenter ini, simbol tersebut berubah menjadi ironi ketika masyarakat adat harus berhadapan dengan ancaman hilangnya hutan dan tanah leluhur mereka.

Viralnya film ini semakin meluas setelah sejumlah agenda nonton bareng di beberapa daerah dikabarkan dibubarkan.

Alih-alih meredam perhatian publik, kejadian itu justru memicu rasa penasaran masyarakat dan membuat film tersebut ramai dibicarakan di TikTok hingga ruang diskusi daring.

Banyak penonton mengaku tersentuh usai menyaksikan film tersebut.

Tidak sedikit warganet yang menyebut dokumenter itu membuka mata tentang realitas masyarakat adat Papua yang selama ini jarang mendapat sorotan di ruang publik nasional.

Selain menampilkan kritik sosial, film ini juga dianggap sebagai bentuk keberanian dalam menyuarakan kelompok-kelompok kecil yang selama ini berada di pinggir pembangunan.

Film dokumenter ini juga mengajak publik melihat bahwa di balik proyek investasi dan pembangunan besar, terdapat kehidupan masyarakat adat, budaya, dan alam yang ikut dipertaruhkan.

Di tengah dominasi konten hiburan digital pada 2026, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita hadir bukan hanya sebagai tontonan.

Tetapi juga pengingat tentang pentingnya kemanusiaan, ruang hidup, dan hak masyarakat adat untuk mempertahankan tanah leluhur mereka.

Sumber: https://youtu.be/
Laporan: Riswanto