Petani di Konawe Menjerit, Harga Gabah Anjlok Dibawah Harga Pembelian Pemerintah

KONAWE, HITSultra.com – Harga gabah yang sebelumnya mengikuti Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram, kini merosot menjadi Rp6.200 bahkan Rp6.000 per kilogram di pasaran.

Sehingga menjelang masa panen, para petani di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, kini dirundung keresahan.

Kondisi ini membuat petani kelimpungan, terutama di Desa Matahori, Kecamatan Padangguni, di mana mayoritas warga menggantungkan hidup dari hasil padi.

Mereka mengaku penurunan harga ini menjadi pukulan berat di tengah mahalnya biaya pupuk dan pestisida.

“Terakhir kemarin cuma Rp6.200 per kilo. Sekarang kami pusing, soalnya pupuk dan racun juga serba mahal,” ujar salah seorang petani yang enggan disebutkan namanya.

Ia berharap pemerintah daerah segera turun tangan melakukan pengawasan agar harga gabah kembali stabil.

“Kami cuma minta harga gabah bisa stabil, biar petani tidak rugi. Jangan sampai biaya tanam besar, tapi hasilnya kecil,” tambahnya.

Keresahan serupa juga melanda petani di Kecamatan Tongauna Utara, terutama di wilayah SPA Lalonggowuna dan Waworoda.

Sejumlah petani menyebut, praktik pembelian gabah di bawah HPP telah terjadi sejak awal Oktober.

“Harga gabah turun sejak tanggal 5 Oktober dari Rp6.500 jadi Rp6.200, sekarang tinggal Rp6.000,” ungkap seorang petani di wilayah tersebut.

Menurut warga, penurunan harga itu dilakukan oleh pihak swasta yang mengaku sebagai mitra Bulog.

Mereka membeli gabah dengan harga murah dari petani, kemudian menjualnya kembali ke Bulog atau pihak lain dengan selisih harga.

“Katanya, tengkulak kasih turun harga karena Bulog belum bayar gabah petani,” keluh seorang petani lain.

Seorang petani berinisial M menuturkan, gabah miliknya sebanyak 9 ton yang sudah disalurkan melalui mitra Bulog hingga kini belum juga dibayar.

“Untuk saya sendiri, 9 ton belum dibayar. Karena kita di sini mulai panen sejak 26 September,” ujarnya.

Para petani mendesak pemerintah pusat segera mempercepat pencairan dana pembayaran kepada mitra Bulog.

Mereka berharap, dengan lancarnya pembayaran tersebut, tengkulak tidak lagi memiliki alasan untuk menekan harga di bawah HPP.

“Kalau pembayaran Bulog lancar, harga gabah pasti ikut normal. Sekarang kami hanya bisa berharap pemerintah cepat tanggap,” pungkasnya.(**)