KENDARI, Hitsultra.com – Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tenggara menggelar Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 secara hybrid yang berpusat di Aula Wakatobi KPwBI Sultra, Jumat (29/11/2025).
Kegiatan strategis ini turut dihadiri Asisten II Bidang Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Setda Sultra Yuni Nurmalawati, Wakil Ketua II DPRD Sultra Herry Asiku.
Deputi Kepala Perwakilan BI Sultra Thathit Suryono, kepala daerah se-Sultra, pimpinan lembaga vertikal, mitra strategis, serta para pemangku kepentingan lintas sektor.
Dalam pemaparannya, Deputi Kepala KPwBI Sultra, Edwin Permadi, menguraikan perkembangan global dan nasional, termasuk outlook ekonomi 2025.
Ia menyebut perekonomian dunia masih dibayangi ketegangan geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah yang menghambat rantai pasok global.
Kebijakan tarif dagang Amerika Serikat juga menekan konsumsi rumah tangga, melemahkan keyakinan pelaku usaha, hingga berdampak pada penurunan kinerja ekspor negara-negara mitra dagang besar seperti Tiongkok dan Jepang.
Meski demikian, ekonomi Eropa menunjukkan perbaikan lebih baik dari proyeksi awal.
IMF, World Bank, dan Bank Indonesia tetap memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2025 berada pada kisaran 2,3–3,2%.
Kondisi nasional dinilai tetap solid. Konsumsi rumah tangga, penguatan investasi, ekspor—termasuk ekspor jasa—dan belanja pemerintah menjadi motor utama pertumbuhan.
Inflasi nasional pun terjaga, ditopang inflasi inti yang rendah dan terkendalinya imported inflation.
Ke depan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 diproyeksikan berada pada rentang 4,7–5,5% dan meningkat pada 2026.
Hal ini sejalan dengan sinergi kebijakan fiskal–moneter, percepatan proyek strategis, serta bauran kebijakan BI yang menjaga stabilitas sekaligus mendorong aktivitas ekonomi.
Secara regional, kinerja ekonomi Kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) meningkat 4,96% (yoy) pada Triwulan III 2025.
Sementara Sulawesi Tenggara mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni 5,65% (yoy), melampaui pertumbuhan nasional sebesar 5,04% (yoy).
Pertumbuhan tersebut ditopang kuat oleh kinerja industri pengolahan berbasis ekspor, terutama sektor hilirisasi nikel, serta meningkatnya konsumsi rumah tangga.
Tekanan inflasi juga terkendali dan kembali berada dalam sasaran pada Oktober 2025, berkat kerja keras Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui strategi 4K.
Digitalisasi sistem pembayaran turut mendorong aktivitas ekonomi masyarakat. Transaksi QRIS mencapai 23,29 juta transaksi, menunjukkan akselerasi signifikan seiring bertambahnya jumlah merchant dan inklusi digital yang semakin luas.
Pertumbuhan ekonomi Sultra tahun 2026 diprediksi lebih tinggi.
Sektor pertanian diperkirakan meningkat melalui ekstensifikasi lahan, sementara industri pengolahan logam dasar semakin kuat karena masuk dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV battery supply chain).
Pembangunan kawasan industri strategis yang terus berjalan juga memberi dorongan signifikan.
Namun, pesatnya pertumbuhan ekonomi juga berpotensi memicu peningkatan daya beli dan tekanan inflasi. Karena itu, sinergi kebijakan lintas lembaga dianggap menjadi kunci menjaga stabilitas perekonomian daerah.
Dalam kesempatan itu, Asisten II Yuni Nurmalawati menyampaikan sambutan Gubernur Sultra mengenai arah kebijakan pembangunan 2026.
Pemprov Sultra memberikan apresiasi kepada BI Sultra atas perannya dalam mengendalikan inflasi, memperkuat pertumbuhan ekonomi, dan mendorong digitalisasi daerah.
Pemprov menilai BI Sultra berkontribusi signifikan dalam:
• Pemetaan sektor unggulan daerah,
• Pengembangan UMKM,
• Penguatan ekonomi dan keuangan syariah,
• Peningkatan inklusi keuangan, serta
• Percepatan digitalisasi melalui ETPD dan perluasan QRIS.
Hasilnya, seluruh pemerintah daerah di Sultra kini masuk kategori Pemda Digital.
PTBI 2025 juga dirangkaikan dengan penganugerahan BI Sultra Award kepada 18 mitra strategis yang dinilai aktif bersinergi dan berinovasi dalam menjaga ketahanan dan pemulihan ekonomi daerah sepanjang 2025.
KPwBI Sultra menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan inovasi, memperkuat kolaborasi dengan Pemda, serta memperkokoh fondasi perekonomian Sulawesi Tenggara yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.(**)
Sumber: PTBI 2025








