KONAWE, Hitsultra.com – Babak final Turnamen Sepak Bola Bupati Cup Konawe Bersahaja 2025 berakhir ricuh dan jauh dari semangat sportivitas, Senin, 29/12/2024.
Laga puncak yang mempertemukan Unaaha FC melawan Barata I’Hana FC terpaksa dihentikan setelah terjadi keributan di menit-menit awal babak pertama.
Sejak peluit awal dibunyikan, Barata I’Hana FC tampil dominan dengan permainan rapi dan menekan lini pertahanan lawan.
Namun, tensi pertandingan mulai memanas ketika salah satu pemain belakang Unaaha FC melakukan pelanggaran keras terhadap pemain Barata I’Hana.
Meski wasit telah mengganjar kartu kuning, situasi tak kunjung mereda.
Insiden tersebut justru berkembang menjadi adu jotos antar pemain di tengah lapangan, memicu kekacauan hingga pertandingan terhenti total.
Kericuhan itu menuai kekecewaan dari para penonton yang memadati pinggir lapangan.
Banyak pihak menilai insiden tersebut mencoreng marwah turnamen sepak bola paling bergengsi di tingkat Kabupaten Konawe.
“Jauh-jauh didatangkan hanya untuk bikin ribut. Jago main bola saja tidak cukup, harus dibarengi mental yang bagus,” ujar salah seorang penonton dengan nada kecewa.
Sejumlah kalangan bahkan menilai panitia gagal menyukseskan turnamen, terlebih laga final tersebut disaksikan langsung oleh Bupati Konawe, Yusran Akbar, ST, namun justru diwarnai insiden yang jauh dari nilai sportivitas.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Konawe sekaligus Ketua Panitia Turnamen Bupati Cup Konawe Bersahaja, Jahiuddin, S.Sos, M.Si, memberikan klarifikasi.
Ia menegaskan bahwa panitia telah berupaya maksimal untuk meredam situasi di lapangan.
“Pertandingan baru berjalan beberapa menit, lalu terjadi polemik hingga perkelahian. Bahkan ada penonton yang masuk lapangan dan memprovokasi. Panitia sudah berupaya mempertemukan kedua tim,” kata Jahiuddin.
Ia menjelaskan, panitia telah memanggil manajer, pelatih, serta perwakilan kedua kesebelasan untuk mencari solusi agar pertandingan dapat dilanjutkan.
Namun, salah satu manajer Unaaha FC menyatakan mundur dari pertandingan.
“Kami sudah melakukan pendekatan, baik kepada pihak keamanan maupun manajer dan tokoh yang dituakan di masing-masing tim untuk meredam situasi. Namun karena salah satu manajer menyatakan tidak siap dan memilih mundur, panitia tidak bisa memaksakan,” jelasnya.
Jahiuddin menambahkan, panitia telah memberikan kesempatan kepada Unaaha FC untuk kembali ke lapangan masing-masing selama lima menit pada dua kesempatan berbeda.
Namun hingga batas waktu yang ditentukan, tim Unaaha FC tidak juga kembali dan memilih meninggalkan lokasi pertandingan (Walk Out).
“Sesuai hasil technical meeting, apabila dalam pertandingan ada tim yang mengundurkan diri, maka dinyatakan kalah. Itu yang kami terapkan,” tegasnya.
Terkait anggapan bahwa turnamen gagal di penghujung acara, Jahiuddin menilai hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, animo masyarakat justru sangat tinggi sepanjang pelaksanaan turnamen.
“Kalau dilihat dari animo penonton, masyarakat sangat antusias. Evaluasi tentu akan kami laporkan kepada Bupati dan Wakil Bupati untuk menentukan langkah terbaik ke depan, agar sepak bola Konawe tetap bersatu dan berkembang,” katanya.
Ia juga menyinggung rencana Kabupaten Konawe untuk berpartisipasi di Liga 4, yang membutuhkan dukungan serius dari pemerintah daerah serta seluruh pemangku kepentingan sepak bola.
“Terkait pembinaan sepak bola, ke depan harus sering digelar event seperti ini agar talenta-talenta muda bisa terpantau. Namun bukan hanya kemampuan teknis, pembinaan mental pemain, manajer, dan ofisial juga sangat penting,” pungkasnya.(**)







